247 Job News Saifudin Hidayat: Hukum P2P Lending Syariah, Apakah Benar-benar Halal?

Silahkan Pilih Warna Background Yang Cocok Buat Mata Anda
back to top

Bengkel cargo lift online , 247 Job News ,Jpg, IMG, multimedia, Content Source wa.me/+6288210361307, https://m.youtube.com/channel/UCaTU8X9o5R44rTRom92svAQ Privasi Policy,Tentang Kami, Hubungi Kami, Mohon Dukungannya Blog ini Akan mengulas Menu Makanan, karena butuh Trafik dan kenyamanan pengunjung Terima kasih

Popular Posts

Ahad, 1 Ogos 2021

Hukum P2P Lending Syariah, Apakah Benar-benar Halal?

Hukum P2P Lending Syariah, Apakah Benar-benar Halal?

Seiring dengan kemajuan teknologi, proses pinjam peminjam semakin mudah untuk dilakukan. Sekarang, kita tidak perlu lagi pergi ke bank untuk mengajukan pinjaman. Karena, meminjam sudah bisa dilakukan dengan smartphone. Bukan, bukan pinjol yang saya maksud. Tapi, P2P Lending, terutama P2P Lending Syariah. Tapi, bagaimana hukum P2P Lending Syariah? Apakah benar-benar halal? Bebas dari riba? Mari kita bahas secara seksama.

Apa itu P2P Lending?
P2P Lending merupakan proses pinjam meminjam yang mempertemukan langsung antara pemberi pinjaman, dan orang yang yang meminjam. Bedanya, P2P Lending dilakukan dengan media internet.
Hadirnya P2P Lending merupakan sesuatu yang merubah tatanan hidup manusia. Jika tadinya seseorang harus pergi ke bank untuk meminjam uang, atau bertemu secara langsung dengan orang yang akan memberikan pinjaman. Tapi sekarang, semuanya bisa dilakukan hanya dengan ujung jari.
Masalahnya, P2P Lending konvensional menimbulkan banyak pro dan kontra, terutama bagi umat Islam. Karena proses pinjam meminjamnya sama seperti biasa, yaitu peminjam harus membayarkan bunga pinjaman kepada orang yang memberikan pinjaman. Dalam Islam, hal tersebut termasuk riba, dan hukumnya haram.
Dengan segala pro kontra yang terjadi, P2P Lending syariah pun lahir dengan iming-iming halal dan bebas dari riba. Tapi, apakah hal tersebut benar?

P2P Lending Syariah
Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, adanya produk keuangan yang sesuai dengan syariat Islam merupakan suatu keharusan. Karena, hal tersebut akan sangat memudahkan masyarakat dalam melakukan segala seuatunya tanpa takut berdosa.
Instrumen investasi lain seperti saham, reksadana, obligasi, dan pasar uang, sudah tersedia dalam syariah. Karena itu, P2P Lending pastinya juga harus tersedia dalam mode syariah. Pada salah satu artikel yang dimuat oleh investree.id, rujukan yang mereka miliki adalah Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI Nomor 67/DSN-MUI/III/2008 tentang “Anjak Piutang Syariah” tanggal 6 Maret 2008. Untuk mengetahui isi nya, silahkan kamu baca saja. Karena, MUI sudah menjelaskannya secara rinci beserta dalil-dalilnya. Karena terlalu panjang, kami tidak bisa menjelaskannya di sini.
Nah setelah itu, mari kita masuk ke dalam akad-akad P2P Lending Syariah. Silahkan disimak dengan baik.

Akad-akad P2P Lending Syariah
Dalam segala sesuatu yang melibatkan keuangan, akad-akad yang dilakukan harus sesuai dengan syariat Islam. Karena jika tidak, segala sesuatu tersebut bisa saja hukumnya menjadi haram.
Dilansir dari salah satu artikel investree.id dengan isi artikel yang ada miripnya, setidaknya ada 2 akad yang terjadi dalam proses P2P Lending Syariah. Tapi, untuk menjelaskan hal ini lebih detail, kamu lebih memilih mengambil sebagian besar informasi dari fatwa MUI yang sebelumnya saya sebutkan.
P2P Lending sama saja dengan berutang. Akad yang digunakan dalam anjak piutang secara syariah adalah Wakalah bil Ujrah. Dilansir dari investree.id, Wakalah Bil Ujrah adalah akad di mana salah satu pihak memberikan wakalah (kuasa) kepada pihak lain untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan atas nama pemberi wakalah. Dan atas wakalah tersebut, penerima wakalah akan menerima ujrah atau upah. Selain itu, akad lain yang digunakan adalah akad Al Qardh.

Inti penjelasan akad P2P Lending Syariah
Setidaknya, ada 3 pihak yang terlibat dalam hal ini. Yaitu pemberi utang, perantara/wakil, dan orang yang berutang.
Pihak pemberi utang, mewakilkan kepada pihak lain/wakil untuk mengurus dokumen penjualan dan termasuk juga menagih utang kepada pihak yang berutang. Pihak perantara (wakil) dapat memberikan dana talangan (Qardh) kepada pihak yang pemberi utang sebesar nilai piutang tersebut. Atas jasanya dalam melakukan penagihan, pihak yang menjadi wakil dapat memperoleh ujrah/fee yang besarnya ditentukan pada saat akad dan dinyatakan dalak bentuk nominal, bukan persentase. Pembayaran ujrah tersebut dapat diambil dari dana talangan atau bisa juga disesuaikan kesepakatannya pada saat akad. Perlu diketahui, antara akad Wakalah bil Ujrah dan akad Qard, tidak dibolehkan adanya keterkaitan (ta’alluq).
Jika yang saya jelaskan belum jelas, silahkan cari informasi dari sumber lain. Yang penting kamu jangan langsung menyebutnya “riba”, sebelum tahu lebih dalam tentang P2P Lending Syariah. Karena, beberapa orang bersikap bodoh dengan mengatakan “riba” tanpa tahu apa-apa.

Hal-hal yang harus kamu perhatikan

Pilih platform yang terpercaya
Saat ini, sudah ada beberapa platform P2P Lending Syariah yang bisa kamu pilih. Sebelum memulai memberikan pinjaman/mangajukan pinjaman, ada baiknya jika kamu analisis dulu platform investasi yang kamu pilih. Karena bisa saja terjadi penipuan, atau pihak platform tersebut tidak benar-benar menjalankan sesuai syariat Islam. Investree Syariah dan Amartha Syariah bisa menjadi pilihanmu.

Untuk pemberi pinjaman, pilih pendanaan pada hal yang halal
Jika posisi kamu sebagai pemberi utang/pinjaman, pastikan usaha yang kamu danai sesuai dengan syariat Islam dan benar-benar halal. Karena, jika tidak, hal tersebut akan mencederai nama syariah yang menjadi iming-iming yang digaungkan oleh platform investasi. Lakukan analisis secara lebih mendalam dan tanyakan langsung kepada pihak yang mengajukan pinjaman tentang kehalalan usaha yang mereka lakukan.

Tanyakan sistem pengelolaan keuangannya
Hal ini sangat penting sekali. Sebaiknya, cari informasi lebih lanjut tentang bagaimana dana tersebut dikelola. Apakah pihak platform Peer to peer Lending menggunakan bank syariah atau malah tidak. Investree sendiri sudah bekerja sama dengan Bank CIMB Niaga Syariah dalam penggunaan produk cash management dan juga fasilitas virtual account (VA). Hal tersebut bisa memudahkan proses transaksi, rekonsiliasi, dan bahkan dalam pelaporan keuangan.

Lakukan apa yang kamu yakini
Beberapa orang, terutama di internet, menganggap beberapa hal seperti Bank Syariah, Saham Syariah, Reksadana Syariah, dll, bahkan sampai P2P Lending Syariah tetaplah riba. Hal tersebut memang tidak ada salahnya, karena itulah yang mereka yakini.
Tapi, kesalahan mereka adalah tidak mencari tahu lebih lanjut tentang semua hal tersebut. Mereka dengan entengnya mengatakan “riba” sebelum mengkaji, membaca fatwa MUI, dan mendengar penjelasan dari para ulama yang sudah ahli. Dengan kata lain, mereka hanya terpengaruh perkataan orang yang mungkin sama-sama tidak tahu apa-apa.
Hal tersebut juga terjadi pada saya. Dulu, saya menganggap bahwa Bank Syariah sama saja riba. Padahal, saya tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti apa yang dikatakan orang lain. Setelah saya tahu lebih dalam dengan membaca dari beberapa sumber, akhirnya pemikiran saya tentang Bank Syariah yang riba pun berubah 180 derajat. Akhirnya saya tahu bahwa Bank Syariah menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam.

Hal yang sama juga harus berlaku pada dirimu. Silahkan cari informasi lebih dalam tentang P2P Lending Syariah. Cari dari sumber-sumber lain seperti menanyakannya langsung kepada ulama-ulama yang sudah ahli, membaca banyak artikel yang berkaitan dengan hal tersebut, dan yang lainnya. Jika sudah melakukannya, maka silahkan kamu putuskan apakah P2P Lending Syariah itu benar-benar syariah, atau sama saja hukumnya riba seperti yang konvensional. 

Saifudin Hidayat

Home

Ilustrasi Iklan 5 bengkelcargoliftonline.com


Tiada ulasan:





Adsense

Senarai Blog Saya

by saifudin hidayat ketegan Timur Sidoarjo